Michael Jackson in Neverland
June 27, 2009
Michael Jackson kecil menemukan dirinya tengah memandang milyaran bintang pada langit diatasnya. Jum’at, 25 juni 2009 dinihari waktu Neverland. Angin musim panas merayapi punggungan bukit dikawasan Santa Barbara USA. Lalu Think, peri kunang-kunang sebesar kelingking itu pun memulai memimpin jalannya upacara inisiasi. Tak terkira rasa bahagia membuncah diwajah Jacko, demikian mereka memanggilnya. Peter pan telah resmi membaiatnya sebagai anggota kelompok anak-anak abadi. Mulai kini hidupnya hanya akan dipenuhi dengan permainan, kegembiraan & petualangan. Ia tak akan tumbuh dewasa & tak akan kesepian lagi
“ Lihat “ Think menyeru seraya menunjuk ke langit sesaat setelah upacara selesai. Bulan terang benderang. Lalu katanya lagi “ Waktunya menari ! “
Jutaan anak disekeliling Jacko ikut bersorak. Jacko merasakan déjà vu. Kapan ia pernah melihat wajah anak-anak itu. Mungkin disuatu tempat dihadapan ribuaan orang dewasa yang berkerumun mengelu-elukannya. Era tahun 80’an saat cahaya bulan disita oleh gemerlap lampu ribuan waat. Musik yang memekakkan telinga. Dan orang-orang dewasa itu seperti kesurupan melihatnya bernyanyi dan menari. Anak-anak disekelilingnya ini adalah anak-anak yang dibawanya serta saat itu. Wajah yang sama dengan rupa yang berbeda. Orang dewasa menyebut mereka anak bermata sipit, bocah berambut pirang, buyung berkulit legam, ucok berhidung pesek. Orang-orang dewasa itu buta. Mereka tak bisa melihat rupa sejati anak-anak itu. Wajah anak-anak. Bukankah pada semua benua, semua jazirah, wajah anak-anak tak ada bedanya. Semata berwajah anak-anak.
Lalu Think meminta bulan menyorot tepat kearah Jacko. Jacko tersipu. Dirinya rikuh tatkala anak-anak menyorakinya untuk menari. Tapi Bulan telah lebih dahulu menyita kakinya. Diatasnya bulan tertawa. Bulan memaksa Jacko mengikuti langkahnya. ‘Ikuti saja !’ kata Bulan, ‘jangan dilawan’. Lalu kaki-kakinya mulai bergerak. Bulan menari & Jacko ikut kemana bulan melangkah, terpatah-patah. Ratusan binatang di Neverland ikut berbunyi. Musik yang indah pun bergema diatas lahan 2.800 hektare itu. Anak-anak tak tahan untuk tidak ikut menari. ‘Inilah kami’ tempik sorak mereka. Kami anak-anak penguasa bumi. Diatas tanah dibawah kolong langit yang sama kami selalu hidup damai.
Waktu berhenti disini. Tak ada masa lalu atau masa depan. Disini Anne Frank tak mengenal siapa Hitler. Lalu anak-anak dari Somalia bisa makan sembarang waktu kapan ia mau sampai kenyang. Jacko terlonjak keatas saat Peter menariknya terbang berputar. Dan ia tertawa saat terhempas diatas hamparan rerumputan.
Jacko terbaring kelelahan. Dikiri kanan jutaan anak ikut terbaring bersamanya. Ia tak pernah sebahagia ini. Tak pernah sejak 19 Agustus 1958 lalu. Jiwanya begitu murni. Suci seperti kertas putih. Serasa mimpi ? tapi bukan, ia menampiknya. Ia yakin seyakin-yakinnya kalau dunianya saat ini adalah nyata. Think telah merogoh hatinya sebelum upacara inisiasi tadi. Dihadapan Jacko dan jutaan anak-anak yang hadir, hati yang telah berusia 50 tahun itu diperlihatkan isinya. Tak ada sama sekali rekam jejak orang dewasa didalamnya. Isinya hanya tentang kisah mengelilingi dunia selama 80 hari, petualangannya bersama Tom Sawyer & kebahagiannya saat Melihat Pangeran bertemu Cinderella yang kehilangan sepatu kacanya. Yah. Jacko terperangah saat mengetahui kalau dirinya yang sebenarnya adalah dongeng masa kecilnya. Persis seperti kata Friedrich Schiller. Bahwa apa yang telah dilaluinya selama ini tak memberikan bekas sama sekali seperti yang telah ditorehkan oleh dongeng dari masa kecilnya.
“ Lalu kenapa manusia harus memilih dewasa ? jika dulu, sekarang atau dimasa depan kita semua sejatinya adalah anak-anak“ kata Think kepada semua.
Dahulu kala dunia begitu damai & indah saat masih dihuni oleh anak-anak. Sampai kemudian perang & kebencian yang dibawa orang dewasa datang merusaknya. Jadi, mari kembalikan keindahan dunia dengan tetap memilih untuk menjadi anak-anak. Make a better place for you and for me..
Rusdianto
Makassar, 26 Juni 2009.