PRESIDEN PILIHAN ANAK
July 4, 2009
Siapa Capres/Cawapres favorit pilihan anak pada Pilpres 8 Juli 2009 nanti ? Sungguh pertanyaan yang bodoh ! Sama bodohnya jika kita bertanya; apakah ada Capres/Cawapres yang peduli pada anak-anak yang notabene merupakan masa depan bangsa ini. Karena jawabannya adalah Tidak Ada !
Sebagai politisi, ketiga kandidat Capres/Cawapres sekarang hanya peduli dengan Suara sebanyak mungkin untuk memenangkan pemilihan. Dan yang punya suara adalah mereka yang sudah bukan anak-anak lagi (17 Tahun keatas & atau sudah menikah). Jadi anak-anak sama sekali bukan issue penting untuk diurusi saat-saat sekarang ini. Suara, semata-mata suara. Lihatlah bagaimana para tim sukses kampanye kandidat Capres/Cawapres menghalalkan segala macam cara demi meraih suara (orang dewasa). Peduli pada mereka (anak-anak) yang belum berhak memberikan suaranya pada pemilihan sama saja membuang-buang waktu. Dari fenomena ini kita bisa belajar, bahwa para politisi hanya memikirkan cara untuk memenangkan pemilihan. Hal-hal lain diluar itu, semisal; bagaimana nasib rakyat kelak, bagaimana membayar janji-jnaji kampanye, bagaimana kondisi anak-anak dimasa mendatang, itu persoalan belakangan. Yang penting adalah Sekarang ! Dan sekarang itu = bagaimana memenangkan dulu pemilihan. Hanya itu, dan sesederhana itu. Read the rest of this entry »
Michael Jackson in Neverland
June 27, 2009
Michael Jackson kecil menemukan dirinya tengah memandang milyaran bintang pada langit diatasnya. Jum’at, 25 juni 2009 dinihari waktu Neverland. Angin musim panas merayapi punggungan bukit dikawasan Santa Barbara USA. Lalu Think, peri kunang-kunang sebesar kelingking itu pun memulai memimpin jalannya upacara inisiasi. Tak terkira rasa bahagia membuncah diwajah Jacko, demikian mereka memanggilnya. Peter pan telah resmi membaiatnya sebagai anggota kelompok anak-anak abadi. Mulai kini hidupnya hanya akan dipenuhi dengan permainan, kegembiraan & petualangan. Ia tak akan tumbuh dewasa & tak akan kesepian lagi
“ Lihat “ Think menyeru seraya menunjuk ke langit sesaat setelah upacara selesai. Bulan terang benderang. Lalu katanya lagi “ Waktunya menari ! “
Jutaan anak disekeliling Jacko ikut bersorak. Jacko merasakan déjà vu. Kapan ia pernah melihat wajah anak-anak itu. Mungkin disuatu tempat dihadapan ribuaan orang dewasa yang berkerumun mengelu-elukannya. Era tahun 80’an saat cahaya bulan disita oleh gemerlap lampu ribuan waat. Musik yang memekakkan telinga. Dan orang-orang dewasa itu seperti kesurupan melihatnya bernyanyi dan menari. Anak-anak disekelilingnya ini adalah anak-anak yang dibawanya serta saat itu. Wajah yang sama dengan rupa yang berbeda. Orang dewasa menyebut mereka anak bermata sipit, bocah berambut pirang, buyung berkulit legam, ucok berhidung pesek. Orang-orang dewasa itu buta. Mereka tak bisa melihat rupa sejati anak-anak itu. Wajah anak-anak. Bukankah pada semua benua, semua jazirah, wajah anak-anak tak ada bedanya. Semata berwajah anak-anak. Read the rest of this entry »